Selamat dari Bom Nagasaki, Pria ini Masih Terus Merasakan Sakit

Sumiteru Taniguchi, adalah nama pria yang berhasil selamat dari bom Nagasaki yang terjadi pada saat perang puluhan tahun yang lalu. Berjuang sedikit dengan lengan kiri yang belum pernah diluruskan, Sumiteru Taniguchi perlahan melepaskan kaos agar tubuh lelaki paruh baya yang kini berusia 86 tahun tersebut bisa menunjukkan dua bekas lukanya sisa-sia dari serangan bom atom di Nagasaki.

Selama 70 tahun, rasa sakit itu telah tinggal bersama mereka para korban yang selamat, namun rasa sakit dari luka meliputi sebagian dari punggungnya, dan sisa-sisa tiga tulang rusuk yang setengah membusuk dan permanen menekan paru-parunya, sehingga membuatnya sulit untuk bernapas. Istrinya masih tetap mengoleskan krim pelembab setiap pagi untuk mengurangi iritasi dari bekas luka bom tersebut. Tidak seharipun terlewatkan tanpa rasa sakit. Namun, Sumiteru Taniguchi tetap menjalani hari-harinya hingga saat ini.

Selamat dari Bom Nagasaki, Pria ini Masih Terus Merasakan Sakit
Foto Sumiteru Taniguchi Saat Masih Kecil

Saat ia masih berusia 16 tahun dan melakukan pekerjaan sebagai pembawa surat ketika ledakan kuat melemparkannya dari sepedanya. Dia berada di sekitar 1,8 kilometer dari episentrum atau pusat bom yang dikenal dengan sebutan "Fat Man" yakni sebuah bom plutonium yang diledakkan di Nagasaki pada 9 Agustus 1945, menewaskan lebih dari 70.000 orang. Enam hari kemudian, Jepang menyerah, mengakhiri Perang Dunia Kedua.

Berbicara dengan suara lemah dengan beberapa usaha untuk memberikan keterangan, ia menceritakan kisah bulan lalu mengembara selama tiga hari dalam keadaan linglung, tidak menyadari betapa seriusnya cedera yang ada pada tubuhnya. Dia merasa sesuatu seperti kain compang-camping tergantung dari punggungnya, bahu dan lengan: namun faktanya adalah bahwa itu adalah kulitnya sendiri akibat terkena ledakan bom.

Dia menghabiskan 21 bulan ke depan berbaring tengkurap, mendapatkan pengobatan untuk luka itu, yang akibatnya membuat daging membusuk hingga terkena tulang. Masuk dan keluar dari kesadaran, ia bisa mendengar perawat lewat di lorong meminta satu sama lain jika anak itu masih bernapas. Dia berpikir: "Mereka sebaiknya membunuh saya."

Karena dia berbaring tak bergerak begitu lama, sebagai salah satu tulang lengan remaja yang masih mengalami pertumbuhan, rasanya sama seperti sendi yang terblokir pada siku sehingga ia tidak dapat sepenuhnya memperpanjang lengan seperti anak seusia lain yang normal.

Selamat dari Bom Nagasaki, Pria ini Masih Terus Merasakan Sakit
Kondisi Sumiteru Taniguchi Saat ini

Taniguchi berharap tidak ada orang lain akan harus menderita rasa sakit dari senjata nuklir. Dia memimpin kelompok yang selamat dari sisa bom Nagasaki bekerja melawan proliferasi nuklir, meskipun usia tua dan pneumonia membuatnya lebih sulit untuk berperan aktif dalam kegiatan positif ini. Setelah bertahun-tahun, kata-katanya banyak yang diwarnai dengan rasa frustrasi.

"Saya ingin semua ini berakhir," katanya, sembari kembali berbaring di mejanya.
Share on Google Plus

About Erick Prakoso

Majalah Siantar adalah terbitan berkala yang isinya meliputi berbagai berita terbaru, koleksi artikel bermanfaat, tips dan trik, pandangan tentang topik aktual terkini yang patut diketahui pembaca, karya tulis dan berbagai catatan dalam dunia pendidikan.