Maaf Aku Tak Bisa Hadir di Acara Pernikahanmu: Episode 2

Maaf Aku Tak Bisa Hadir di Acara Pernikahanmu: Episode 2

Cerita sebelumnya... Hari yang paling lama ku lalui sepertinya memang hari pernikahanmu, tapi sudahlah. Dukungan teman-temanku sudah cukup untuk bisa membuka awal baru. Toh wanita bukan cuma kamu saja. Meski berkali-kali aku mencoba untuk tidak memikirkanmu, sejujurnya saat itu pula aku selalu bertanya dan mengenang semua cerita yang sudah kita lalui. Kok bisa ya ? Sekejam itu kah ? Apa gunanya setia kalau begitu ?

Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Rasanya dada ini terlalu sesak untuk terus memikirkan hal yang sama dalam waktu lama. Berbagai cara sudah ku coba. Asal tidak berujung dengan bunuh diri saja. Memang hal itu tidak pernah terpikirkan olehku. Namun teman yang suka jahil ada saja yang memberikan saran yang kurang pas waktunya. "Jangan bunuh diri ya bro!", begitu ucapannya kira-kira. Aku hanya bisa tersenyum dengan perkataannya.

Entah kenapa, hambar semua pekerjaan yang biasa ku lakukan. Entah sudah berapa kali pekerjaan di kantor harus diulang berkali-kali bahkan yang biasanya cepat selesai kini harus memakan waktu ekstra. Si bos juga heran ada apa denganku. Namun aku tak mau jujur karena ku tahu, sekalipun aku jujur, ya toh ujung-ujungnya dia bakalan minta aku untuk bersikap profesional. Harus bisa memisahkan urusan kerjaan dan urusan perasaan.

Ini pertama kali dunia seakan tidak bersahabat lagi. Pernah ketika pulang kerja, menuju rumah. Hampir kecelakaan hanya karna urusan hati yang belum kelar. Mencoba ikhlas namun tak sepenuhnya bisa. Oh Tuhan, galau ku semakin lama semakin menyiksa. Orang melihatku mungkin berpendapat kalau ini sudah terlalu lebay. Hmm, Anda bisa berpendapat demikian coy, tapi tetap aku yang jalanin kan ?. Jadi. kalau tidak bisa kasih solusi, jangan memperkeruh masalah, kira-kira seperti itu hatiku berbicara.

Banyak yang mencoba memberikan kenalan wanita dari para sahabatku, namun aku tak tertarik. Mereka terlihat seperti biasa saja. Namanya juga lagi patah hati. Mau cewek paling seksi pun aku tidak merespon, toh ujung-ujungnya harus beradaptasi lagi dari awal. Itu sudah cukup membuatku menyerah duluan.

Satu nasihat dari seseorang yang prihatin terhadap keadaanku pernah berkata. "Jadi cowok yang kuat dong!, Lo itu hunter, patah satu tumbuh seribu. Coba lirik rumput tetangga, kan masih jauh lebih hijau bung..", katanya. "Okelah", jawabku singkat.

Namun, tetap saja hati ini masih terikat padanya. Ingin aku bertemu, namun karena itu tidak mungkin lagi terjadi, karena aku juga makin lama semakin membencinya. Benar, aku berubah dari orang yang paling peduli, menjadi orang yang tidak mau tahu lagi. Toh dia sudah ada yang menjaga, bersama kekasih barunya yang keparat yang disebut dengan "suami". Kalau mau jahat, ingin ku bunuh saja pacarnya. Tapi itu juga tidak mungkin terjadi di dunia nyata. Sebab yang ada, aku bakalan mati konyol dalam penjara atas kesalahan yang mungkin disebabkan oleh emosi sesaat.

Intinya harus bisa pasrah, terima kenyataan, balas dendam ? ya coba dengan melakukan sesuatu yang baik agar dia menyesal pernah menyakiti perasaan lelaki yang sudah teruji di ITB dan IPB akan ketulusan yang tiada tara. Lelaki baik akan dijahati wanita, sedangkan wanita bodoh menerima perlakuan yang membuatnya sakit hati dari lelaki yang bermodalkan dusta. Tunggu saja waktunya kawan, cepat atau lambat, kau akan merasakan kesakitan lebih dari apa yang ku rasakan saat ini.


Share on Google Plus

About Miyako Koyami

Majalah Siantar adalah terbitan berkala yang isinya meliputi berbagai berita terbaru, koleksi artikel bermanfaat, tips dan trik, pandangan tentang topik aktual terkini yang patut diketahui pembaca, karya tulis dan berbagai catatan dalam dunia pendidikan.